Cara Budidaya Jahe Secara Organik

Diposting pada

Cara Budidaya Jahe Secara Organik –¬†Pertanian organik adalah salah satu sistem bercocok tanam dengan cara holistik dan terpadu yang mengutamakan kesehatan, lingkungan, serta produktivitas secara alami. Pertanian organik akan menghasilkan bahan-bahan alami tanpa atau mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia yang berkualitas, memiliki serat yang cukup, dan tentu saja baik untuk kesehatan tubuh. Tidak hanya itu, pertanian organik juga mampu melindungi tanah, udara, mahkluk hidup dari bahaya bahan kimia yang biasanya digunakan dalam pertanian konvensional (penggunaan pupuk anorganik).

Tanaman yang menggunakan sistem pertanian organik mempunyai kandungan nutrisi, mineral, mikronutrisi, vitamin, hingga antioksidan yang lebih banyak dibandingkan tanaman yang menggunakan sistem pertanian non-organik. Pertanian organik melalui proses teknik rotasi penanaman, pupuk hijau, dan mengontrol penggunaan pestisida biologi. Pertanian organik juga dapat dimanfaatkan sebagai strategi untuk melakukan budidaya pada tanaman jahe.

Terdapat banyak kelebihan yang akan didapatkan ketika kita melakukan budidaya jahe secara organik, sebagai berikut :

  • Harga jual jahe akan lebih tinggi karena hasil pertanian organik setidaknya 25-30% lebih tinggi dari hasil pertanian biasa.
  • Menghasilkan jahe sebagai bumbu bahan makanan yang sehat dan baik untuk kesehatan.
  • Biaya operasional lebih rendah karena pertanian jahe secara organik menggunakan pupuk dari kotoran ternak dan sisa hasil panen atau rumput liar sebagai sumber hara.
  • Lingkungan pertanian jahe menjadi sehat karena tidak terpapar oleh polusi yang diakibatkan oleh pupuk anorganik.
  • Memperbaiki dan menjaga pH tanah serta meningkatkan populasi mikroorganisme tanah
  • Mengurangi limbah pertanian karena sisa produksi dapat diolah menjadi pupuk organik
  • Kualitas air tetap terjaga karena pupuk yang digunakan berasal dari bahan yang alami, sehingga aman digunakan dalam jumlah yang banyak.
  • Meminimalkan gangguan aktivitas biota tanah karena pengelolaan tanah dengan bahan alami dan tanah menjadi terlindungi dengan mulsa organik.

Setelah mengetahui pengertian dari pertanian organik dan kelebihan melakukan budidaya jahe secara organik, maka selanjutnya artikel ini akan membahas mengenai hal-hal yang harus di siapkan untuk melakukan pertanian jahe secara organik, yaitu :

  • Menyiapkan tempat penanaman untuk melakukan pertanian jahe secara organik tidak harus menanam langsung di tanah, tetapi juga bisa menggunakan polybag atau pot sebagai media tanamnya. Jika ingin menggunakan polybag atau karung untuk menanam jahe, pastikan ukurannya adalah 60×40 cm karena tanaman jahe membutuhkan banyak tempat untuk pertumbuhan rimpangnya.
  • Menyiapkan pupuk organik yang sudah difermentasi karena jenis pupuk ini lebih mudah untuk terserap polybag / karung. Selain itu, jahe yang ditanamn juga merupakan jahe yang lebih berkualitas dan sehat untuk dikonsumsi.
  • Menyediakan bibit jahe yang berkualitas (tidak cacat) dan tahan terhadap penyakit, sehingga perawatan yang dilakukan nantinya tidak terlalu sulit. Untuk mengetahui bibit jahe yang dipilih adalah tepat, disarankan untuk merendam bibit tersebut dalam larutan fungsida selama 15 menit. Setelah perendaman dilakukan, penyakit akibat jamur ataupun bakteri akan hilang.
  • Menyiapkan tanah yang gembur dan sedikit berpasir, sehingga jahe akan lebih cepat tumbuh dan berkembang. Hal ini perlu diperhatikan karena jika hanya mengandalkan pupuk, tetapi tanah yang digunakan tidak cocok atau berkualitas untuk menanam jahe, maka hasil panen jahe secara organik juga tidak akan maksimal.
  • Menyiapkan berbagai macam peralatan berkebun yang dibutuhkan untuk melakukan pertanian jahe secara organik, misalnya cangkul, sekop, dan peralatan kebun lainnya sesuai dengan media tanam yang hendak digunakan.

 Setelah mengetahui hal-hal apa saja yang harus disediakan pada budidaya jahe secara organik, langkah selanjutnya adalah melakukan penanaman jahe secara organik sebagai berikut :

  • Langkah pertama, semailah bibit jahe di daerah yang lembab dan tidak terkena sinar matahari secara langsung. Langkah ini dapat dilakukan dalam ruangan tertutup dengan alas jerami lalu tutup kembali atasnya dengan jerami atau alang-alang. Saat proses penyemaian berlangsung, pastikan kelembaban bibit jahet secara rutin. Bibit tersebut tidak boleh terlalu kering ataupun lembab. Jika terlalu kering dapat dilakukan penyiraman sedikit demi sedikit hingga lembab. Jika langkah ini dilakukan dengan benar, maka tunas jahe akan tumbuh setelah dua minggu dan bibit jahe siap untuk dipindahkan.
  • Langkah kedua, meletakkan bibit jahet pada media tanam yang sudah disediakan. Selanjutnya, menancapkan 3-5 rimpang jahe pada media tanam dan memastikan bahwa tunas jahe berada pada posisi berdiri. Kemudian, singkirkan sedikit tanah sekitar 3-5 cm dan tutup dengan menggunakan jerami kering.
  • Langkah ketiga, lakukan penyiraman terhadap tunas jahe secara rutin hingga daun keluar dari tunasnya. Jangan lupa untuk memastikan bahwa tanaman jahe tidak terkena sinar matahari secara langsung. Pada 3 bulan pertama, penting untuk dilakukan penyiraman secara langsung. Kemudian, pada saat tanaman jahe berusia 4 tahun lakukanlah penyiangan gulma yang berada di sekitar tanaman jahe. Jahe dapat dipanen setelah usianya sekitar 10-12 bulan (untuk hasil yang optimal disarankan memanen jahe setelah usia tanamanya genap 12 bulan).
  • Langkah keempat, melakukan penyulaman tanaman jahe yang tidak tumbuh dapat dilakukan setelah 1 bulan jahe tidak tumbuh. Penyulaman dapat dilakukan dengan bibit jahe cadangan yang sudah disemai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *